
Mentawai – GardaNews.com
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di SPBU KM 2 Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, kembali menjadi perhatian masyarakat.
Kondisi ini diduga terjadi karena kuota BBM yang diperuntukkan bagi Kecamatan Sipora Utara juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dari berbagai wilayah lain di Kepulauan Mentawai.

Penanggung jawab BBM SPBU KM 2 Tuapejat, Desi, menjelaskan bahwa banyak kendaraan dan kapal dari luar Kecamatan Sipora Utara yang melakukan pengisian BBM di Tuapejat. Pengguna tersebut berasal dari Kecamatan Sipora Selatan, Siberut, Pagai Utara, Pagai Selatan, serta wilayah lain yang memiliki keperluan di ibu kota kabupaten.
“Kuota BBM yang tersedia sebenarnya untuk kebutuhan masyarakat Sipora Utara. Namun dalam praktiknya, banyak pengguna dari luar wilayah yang mengisi BBM di SPBU KM 2 Tuapejat. Tamu yang datang dari Pagai maupun daerah lain juga mengisi BBM sebelum kembali ke daerahnya masing-masing,” ujar Desi kepada GardaNews.com.
Selain melayani masyarakat setempat, SPBU KM 2 juga kerap melayani kebutuhan BBM bagi kapal-kapal rujukan pasien dari berbagai kecamatan. Menurut Desi, boat yang membawa pasien rujukan dari Puskesmas Betaet di Siberut maupun dari hampir seluruh kecamatan di Mentawai sering mengambil BBM di Tuapejat untuk transportasi kembali ke daerah asal.
“Kalau mereka sudah berada di Tuapejat untuk membawa pasien rujukan, tentu mereka membutuhkan BBM untuk perjalanan pulang. Kalau tidak kita layani, mereka marah karena kondisinya mendesak,” kata Desi.
Ia menambahkan, pernah ada permintaan bantuan BBM subsidi sekitar 1,5 ton untuk kebutuhan transportasi masyarakat dari daerah jauh. Menurut Desi, permintaan tersebut bahkan disampaikan melalui koordinasi dengan pihak pemerintah daerah.
“Sampai Kepala Dinas Sosial pernah menelepon meminta bantuan BBM subsidi sekitar 1,5 ton untuk membantu masyarakat untuk menjemput jenajah ( Ambun Laut) yang datang dari daerah jauh seperti Betaet. Karena pertimbangan kemanusiaan dan kebutuhan transportasi, terpaksa kita layani,” ujarnya.
Selain itu, para nelayan yang datang menggunakan jeriken untuk kebutuhan operasional melaut juga harus dilayani sesuai ketentuan yang berlaku. Kondisi tersebut menyebabkan stok BBM subsidi lebih cepat berkurang dibandingkan perhitungan kebutuhan masyarakat Sipora Utara.
Menurut Desi, salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan mengoptimalkan operasional SPBU di KM 10 dan wilayah Sipora Selatan sehingga distribusi BBM dapat lebih merata dan tidak bertumpu pada SPBU KM 2 Tuapejat.
“Jika SPBU di KM 10 dan SPBU di Sipora Selatan beroperasi secara maksimal, maka kebutuhan BBM masyarakat Sipora Utara dapat lebih tercukupi. Saat ini beban pelayanan masih terpusat di SPBU KM 2,” katanya.
Di sisi lain, jumlah kendaraan roda empat dan sepeda motor di Tuapejat terus meningkat setiap tahun.
Pertambahan kendaraan tersebut turut mempengaruhi tingginya konsumsi BBM subsidi di wilayah ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, pihak terkait, dan PT Pertamina (Persero) dapat melakukan evaluasi terhadap kuota BBM subsidi yang diberikan kepada Kabupaten Kepulauan Mentawai agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan kelangkaan BBM tidak terus berulang. Selain evaluasi kuota, masyarakat juga berharap pengawasan distribusi BBM subsidi diperkuat agar penyalurannya lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Desi menjelaskan bahwa BBM untuk kebutuhan Sipora masuk kapal hari ini kamis tgl 4 juni 2026 karna ada kendala faktor cuaca , besok jumaat pagi baru di buka sudah bisa masayarakat mengambil di SPBU km2 kata desi penanggung jawab BBP di SPBU tuapejat km2 (TIM REDAK)

