Mentawai, Gardasuarakitanews.com—Diduga tidak mendapatkan pelayanan optimal, seorang pasien di Rumah Sakit Umum Siberut melepas jarum infus yang telah terpasang ditangannya. Tindakan tersebut, dilakukannya, karena tidak ada respon dari petugas rumah sakit yang seharusnya standby di saat jam dinas.
“Berulang kali saya minta tolong tapi tidak ada respon dari petugas. Karena sudah tidak tahan, akhirnya saya memutuskan mencabut sendiri jarum infus saya yang sudah terpasang. Tangan saya berdarah, lantai penuh darah. Saya merasa tidak mendapat perhatian dari rumah sakit,” ujarnya kepada yang tidak ingin namanya dituliskan.
Dia mengaku, telah memanggil petugas berulang kali, namun, tidak ada petugas yang datang. Peristiwa ini juga menimbulkan kekesalan dari pihak keluarga pasien dan reaksi masyarakat sekitar. Publik juga mempertanyakan kualitas pelayanan, mengingat rumah sakit tersebut baru diresmikan beberapa bulan lalu dan kerap dianggap sebagai fasilitas kesehatan rujukan utama di Siberut Selatan.
Direktur Rumah Sakit Umum akui Perawat Tinggalkan Pasien
Direktur Rumah Sakit Pratama, M. Win, ketika dikonfirmasi, membenarkan bahwa petugas semoat meninggalkan pasien, karena sedang ke luar mencari signal seluler. “Perawat waktu itu memang sedang keluar mencari sinyal Telkomsel di area yang agak jauh dari rumah sakit,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa Rumah Sakit Umum dituntut beroperasi 24 jam dengan keterbatasan tenaga kesehatan berdasarkan surat tugas dari Bupati Kepulauan Mentawai. Saat ini, kata dia, jumlah tenaga medis di RS Pratama Siberut, yakni, 1 orang dokter, 8 orang perawat, 5 bidan, 3 satpam, 3 cleaning service dan 1 orang staf administrasi.
“Jumlah tersebut tergolong sangat minim untuk pelayanan 24 jam. Meski demikian, pihak rumah sakit tetap melayani pelayanan IGD penuh waktu.Kami melayani dengan tulus,” ucapnya.
Publik Menuntut Evaluasi
Sejumlah warga menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian biasa. Minimnya SDM, lemahnya pengawasan, hingga ketidaksigapan perawat dianggap menjadi bukti bahwa sistem pelayanan RS Pratama masih jauh dari standar.
Warga meminta pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan turun tangan, melakukan evaluasi, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang. “Rumah sakit ini dibangun untuk menolong masyarakat, bukan membiarkan pasien berjuang sendiri,” kata salah seorang warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas kesehatan belum memberikan komentar resmi terkait kejadian tersebut.(*)

