Elwis Elyas, SH — Anak Petani yang Menjaga Demokrasi Tanpa Mengejar Kekuasaan

  • Padang Pariaman – GardaNews.com
    Di tengah politik yang sering riuh oleh ambisi dan transaksi, nama Elwis Elyas, SH justru dikenal karena satu hal yang semakin langka: integritas. Ia tidak lahir dari keluarga elite.
  • Ia dibesarkan dari keringat orang tua petani, dari tanah sawah yang mengajarkannya arti kerja keras dan harga diri. Dari kehidupan desa yang sederhana, ia memahami bahwa kehormatan tidak datang dari jabatan, tetapi dari karakter.
  • Sejak muda, ia percaya pendidikan adalah jalan perubahan. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Pariaman tahun 1984, ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Andalas dan lulus pada 1988.
  • Hukum ia pilih bukan untuk mencari kekuasaan, tetapi untuk menjaga keadilan. Sebagai pengacara, ia dikenal konsisten—tenang dalam bersikap, tegas dalam prinsip.
  • Kepercayaan publik membawanya menjadi Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kota Pariaman selama dua periode (2003–2008 dan 2008–2013). Sejak awal menjabat, ia langsung dipercaya sebagai Ketua.
  • Di kursi itulah integritasnya benar-benar diuji. Tekanan politik, tarik-menarik kepentingan, dan dinamika kekuasaan bukan hal asing. Namun ia berdiri tegak.
  • Ia menjaga suara rakyat.
    Ia menjaga proses demokrasi.
    Ia menjaga marwah lembaga.
    Dan ketika banyak orang mempertahankan jabatan sampai detik terakhir, Elwis Elyas memilih mundur dua tahun sebelum masa jabatan periode kedua berakhir.
    Bukan karena kalah.
  • Bukan karena terdesak.
    Tetapi karena prinsip.
    Ia menunjukkan bahwa jabatan bukan sesuatu yang harus digenggam mati-matian. Kekuasaan bukan tujuan hidupnya.
  • Setelah itu, ia kembali ke profesinya sebagai pengacara. Sunyi, tetapi tetap konsisten. Ia juga mendirikan Ota Lapau Club (OLC), ruang diskusi masyarakat yang menjadi wadah gagasan dan kontrol sosial.
  • Setiap momentum Pilkada Kota Pariaman, namanya selalu disebut. Dorongan agar ia maju sebagai Wali Kota atau Wakil Wali Kota terus datang dari berbagai kalangan. Rekam jejaknya jelas. Integritasnya teruji. Kepemimpinannya pernah dibuktikan.
    Namun hingga kini, ia belum tergoda.
  • Di saat banyak figur sibuk membangun pencitraan, Elwis Elyas membangun kepercayaan.
    Di saat politik sering dipenuhi kompromi nilai, ia memilih menjaga prinsip.
  • Dari pematang sawah hingga ruang demokrasi, ia membuktikan satu hal penting:
    Kekuatan sejati bukan pada jabatan yang diraih, tetapi pada karakter yang tidak pernah dijual.
  • Dan mungkin, justru karena ia tidak mengejar kekuasaan—masyarakat terus memanggil namanya.(☆)
Share :